Sherina Aldaina

Self · Love · Stories · Journal

Please, Jangan Jahat Sama Orang


Pernah nggak sih kamu lihat seseorang yang jelas-jelas menyakiti orang lain, tapi ketika orang yang disakiti akhirnya bereaksi, malah dia yang merasa paling tersakiti?

Aneh, tapi hal ini ternyata cukup sering terjadi.

Seseorang bisa berkata kasar, bersikap seenaknya, mengecewakan berkali-kali, atau memperlakukan orang lain tanpa memikirkan perasaannya. Tapi ketika orang tersebut akhirnya marah, menjauh, atau memilih berhenti peduli, tiba-tiba ceritanya berubah.

Dia merasa dirinya yang jadi korban.

Padahal, ada kemungkinan dia lupa satu hal : reaksi seseorang sering kali muncul karena ada tindakan yang lebih dulu melukainya, iya gak?

Kok Malah Kamu yang Sakit?

Nggak semua orang yang marah itu jahat.

Nggak semua orang yang berubah itu tiba-tiba punya hati buruk.

Kadang, seseorang cuma sudah terlalu capek.

Capek memaklumi, capek menjelaskan, capek berharap. Capek terus menjadi orang yang mengerti, sementara dirinya sendiri nggak pernah benar-benar dimengerti.

Jadi, sebelum bilang, “Kok dia berubah banget?”, coba ingat lagi gimana kamu memperlakukannya selama ini.

Mungkin dia bukan berubah.

Mungkin dia cuma sudah berhenti menerima perlakuan yang sama.

Coba Lihat Lagi 

Kita sering banget melihat kesalahan orang lain, tapi lupa mengecek kesalahan sendiri.

Ketika seseorang menjauh, kita langsung bertanya kenapa dia tega. Ketika seseorang berhenti membalas pesan, kita menganggap dia sombong. Ketika seseorang akhirnya marah, kita bilang dia berlebihan.

Tapi pernah nggak kita bertanya:

“Apa yang aku lakukan sampai dia seperti ini?”

Introspeksi memang nggak selalu nyaman. Kadang kita harus mengakui bahwa kita pernah salah, pernah egois, pernah berkata sesuatu yang menyakitkan. Atau bahkan pernah membuat seseorang merasa banyak kurangnya.

Ibarat berkendara, kita sering sibuk memperhatikan kendaraan lain yang salah jalan. Tapi sesekali, kita juga perlu melihat kaca spion. Bukan untuk terus melihat ke belakang, tapi untuk memastikan bahwa ada sesuatu dari cara kita berjalan yang perlu diperbaiki.

Dan mengakui kesalahan bukan berarti kita kalah kok.

Justru itu tanda kalau kita cukup dewasa untuk bertanggung jawab.

Jangan Main Korban

Hal yang paling nggak enak adalah ketika seseorang menyakiti kita, lalu saat kita bereaksi, justru kita yang dibuat merasa bersalah.

Dia yang memulai masalah, tapi kita yang dianggap too much (berlebihan).

Dia yang menyakiti, tapi reaksi kita yang terus dibahas.

Lama-lama, kita bahkan mulai mempertanyakan diri sendiri.

“Apa aku yang salah?”

“Apa aku terlalu baper?”

“Apa aku memang jahat?”

Padahal, merasa sakit hati setelah diperlakukan nggak baik itu wajar.

Kita memang tetap perlu melihat cara kita bereaksi. Tapi jangan sampai itu membuat kita lupa bahwa ada sesuatu yang lebih dulu terjadi.

Jangan sampai seseorang memutarbalikkan keadaan sampai kamu sibuk merasa bersalah atas reaksimu, hingga lupa alasan kenapa kamu akhirnya memilih untuk pergi.

Karena nggak semua orang yang bereaksi adalah orang yang memulai masalah.

Ada Konsekuensinya

Setiap tindakan punya konsekuensi.

Kalau kamu terus mengecewakan seseorang, jangan kaget kalau suatu hari dia berhenti berharap.

Kalau kamu terus mengabaikan, jangan heran kalau akhirnya dia berhenti mencari.

Kalau kamu terus menyakiti, jangan kaget kalau suatu hari dia memilih pergi.

Dan ketika itu terjadi, bukan berarti dia sedang membalasmu.

Bisa jadi, dia cuma sedang menyelamatkan dirinya sendiri.

Nggak semua kepergian harus dianggap sebagai bentuk kebencian. Kadang, pergi adalah cara seseorang mengatakan, “Aku sudah cukup.”

Please, Jangan Jahat 

Hidup cuma sekali.

Kita nggak pernah tahu seberapa berat hari yang sedang dijalani orang lain. Jadi, kalau bisa memperlakukan seseorang dengan baik, kenapa harus sengaja menyakitinya?

Kalau sudah nggak suka, nggak perlu merendahkan.

Kalau sudah nggak ingin bersama, nggak perlu mempermainkan perasaan.

Kalau melakukan kesalahan, nggak ada salahnya meminta maaf.

Dan kalau seseorang akhirnya bereaksi karena perlakuanmu, jangan buru-buru memosisikan diri sebagai korban.

Coba berhenti sebentar dan lihat semuanya dari sisi yang berbeda.

Mungkin ada hati yang sudah lama kamu sakiti tanpa kamu sadari.

Please, jangan jahat sama orang.

Karena kita nggak pernah tahu, mungkin perlakuan kecil yang menurut kita biasa saja ternyata menjadi luka yang dibawa seseorang cukup lama.

Jadi, sebelum berkata atau bertindak seenaknya, pikirkan lagi.

Karena pada akhirnya, kita semua sama-sama punya hati.

Dan nggak ada yang tahu kapan peran kita akan berbalik, dari orang yang menyakiti, menjadi orang yang akhirnya merasakan sakitnya.