Aku tahu rasanya kehilangan.
Ibu, duniaku.
Tapi sampai detik ini, aku masih kalah dengan rasa rindu yang menyelimuti. Ya, siapa yang tidak sedih ketika raga yang biasanya bisa kita peluk, pada kenyataannya hanya bisa kita temui dalam ingatan?
Ia sudah menjadi tanah kini. Dan aku masih di sini, mencoba menjalani hari sambil sesekali meratapi kepergiannya.
Aku tahu, aku tidak bisa terus hidup di dalam mimpi sambil menyesali sesuatu yang sudah tidak mungkin diubah. Tapi terkadang, rasa rindu itu terasa begitu berat.
Kenapa dulu aku tidak pernah benar-benar membuka diri?
Padahal ia ingin mendengar kisahku. Ia ingin tahu apa yang kurasakan. Aku hanya selalu berusaha terlihat baik-baik saja di matanya.
Sementara mungkin, ia sebenarnya tahu bahwa aku tidak selalu baik-baik saja.
Aku tidak banyak membuka suara. Aku hanya berkata,
“Aku tidak apa-apa.”
Sampai akhirnya air mata mengalir deras, seperti hujan tanpa petir.
Dan mungkin, saat itu ia merasa bersalah karena menyadari bahwa aku ternyata sama sepertinya. Melindungi diri dengan diam agar tidak terlihat lemah.
Sehebat itu kami menyembunyikan perasaan.
Aku masih mengingat nasihat-nasihatnya.
Ia selalu berkata, kalau ada orang yang berbuat buruk kepada kita, jangan membalasnya dengan keburukan. Jangan membenci seseorang hanya karena ia pernah menyakiti kita, karena kebencian hanya akan melahirkan dendam.
“Mengalah untuk menang adalah jiwa yang baik. Bukan berarti kalah. Hanya saja, memberi waktu pada alam untuk membalasnya.”
Ada juga kalimat-kalimat sederhana yang sekarang justru menjadi hal yang paling kurindukan.
“Dek, peluk dulu sini Mamak nang.”
“Makan dulu, Dek.”
“Gimana tadi mainnya?”
“Ke mana aja?”
“Beli apa aja?”
Dulu mungkin perkataan itu terdengar biasa.
Sekarang, aku ingin sekali mendengarnya lagi.
Kalau boleh meminta satu hari kepada Tuhan untuk mengembalikan Mamak kepadaku, aku ingin mengajaknya berjalan-jalan.
Aku ingin mengajaknya mencoba berbagai makanan di kota rantau tempatku berada sekarang.
Aku ingin menceritakan semua perjuanganku hingga sampai di titik ini.
Mungkin satu hari tidak akan pernah cukup.
Tapi Tuhan, sehari saja.
Mungkin dengan satu hari itu aku bisa sedikit mengurangi rasa penyesalan yang selama ini kubawa.
Dulu, aku bekerja karena ingin memberinya sesuatu.
Ia tidak pernah meminta.
Tapi anak mana yang tidak ingin memberikan sesuatu kepada ibunya?
Meskipun sederhana dan jauh dari kata mewah.
“Mamak nggak minta apa-apa. Mamak cuma ingin anaknya nemenin aja di sini.”
Sesederhana itu.
Namun sebagai anak, aku pernah begitu egois.
Di usia yang baru 18 tahun, aku merasa sudah cukup dewasa untuk berjuang demi keluarga. Padahal pendewasaan itu belum benar-benar matang.
Niat yang awalnya ingin membantu, justru membawa masalah baru.
Bukannya untung, malah buntung.
Yahh, that's life guys.
Baru punya KTP, sudah merasa paling tahu semuanya.
Hahahaha.
Tapi saat itu, Mamak tetap mendukungku. Mungkin karena ia tahu anaknya keras kepala, sama seperti dirinya.
Manusia memang lucu.
Ketika seseorang ada, terkadang kita mengabaikannya.
Ketika ia pergi, barulah kita mencarinya.
Padahal kita semua tahu bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. Suatu hari nanti, kita semua akan merasakannya, dan akan ada orang-orang yang kehilangan kita.
Namun kita tetap hidup seolah-olah waktu adalah milik kita selamanya.
Sampai suatu hari, aku benar-benar mengalaminya.
Saat itu, Mamak sedang tertidur pulas. Aku yang kelelahan setelah menjalani ujian STAN juga tertidur di sampingnya.
Tanpa kusadari, malaikat maut telah datang dan membawa pergi orang yang paling kucintai.
Mamakku.
Ketika terbangun karena keributan dan mendengar bahwa ia telah tiada, aku hanya terdiam.
Aku bahkan masih berusaha membangunkannya.
Secepat itu duniaku berubah.
Dan mungkin tanpa kusadari, Tuhan sedang menjawab doaku.
Doa yang pernah kupanjatkan agar Mamak tidak lagi tersiksa oleh sakitnya di dunia.
Mak, terima kasih untuk segala hal yang telah kau beri.
Aku juga minta maaf, kalau sampai saat ini aku masih jauh dari kata berbakti.
Aku masih mengingatmu hingga detik ini.
Meskipun raganya telah tiada, cintanya tetap ada.
Di dalam ingatan.
Di dalam doa.
Dan di dalam diriku.
Mak, kalau benar aku boleh meminta satu hari saja, aku ingin menghabiskannya bersamamu.
Sehari saja.
