Jujurly, aku belum menikah.
Jadi mungkin aku bukan orang yang paling tahu gimana rasanya menjalani rumah tangga.
Aku belum tahu gimana rasanya menjadi istri, mengurus anak, membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, atau menghadapi kehidupan bersama pasangan setiap hari.
Dan mungkin nanti, setelah aku mengalaminya sendiri, ada banyak pemikiranku hari ini yang berubah.
Fair enough.
Tapi bukankah kita nggak harus menikah dulu untuk tahu hubungan seperti apa yang nggak ingin kita jalani?
Belakangan aku sering berpikir tentang hal ini,
Ke mana lelaki yang bertanggung jawab itu?
Bukan dalam arti lelaki yang harus membayar semuanya, mengambil semua keputusan, atau menjadi manusia yang nggak boleh lemah.
Bukan itu.
Menurutku, menjadi lelaki yang bertanggung jawab bukan berarti harus selalu kuat sendirian.
Tapi ketika memilih seseorang untuk berjalan bersamanya, ia juga sadar bahwa ada tanggung jawab yang ikut dipilih.
Aku sering mendengar tentang bagaimana perempuan harus mempersiapkan diri sebelum menikah.
Harus bisa masak.
Harus bisa mengurus rumah.
Harus bisa mengurus anak.
Harus bisa melayani suami.
Harus pandai menjadi istri.
Harus pandai menjadi ibu.
Bahkan sejak kecil, perempuan seperti dipersiapkan dengan satu prinsip:
“Pokoknya harus bisa!”
Dan aku nggak bilang kemampuan itu buruk. Aku justru ingin bisa banyak hal.
Aku mau bisa masak, bisa ngurus rumah, bisa mengurus diriku sendiri, dan kalau suatu hari punya anak, ya tentu aku ingin bisa menjadi ibu yang baik.
Tapi kadang aku bertanya,
kenapa perempuan selalu diajarkan untuk bisa semuanya, sementara laki-laki nggak selalu diajarkan untuk melakukan hal yang sama?
Kalau perempuan harus bisa memasak supaya nggak bergantung pada suami, bukankah laki-laki juga seharusnya bisa memasak supaya nggak bergantung pada istrinya?
Kalau perempuan harus bisa mengurus rumah, bukankah laki-laki juga tinggal di rumah yang sama?
Kalau perempuan harus belajar mengurus anak, bukankah...
yaa, itu juga anaknya kan?
Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu yang kadang membuatku melihat konsep patriarki dari sisi yang sedikit berbeda.
Karena menurutku, masalahnya bukan sekedar laki-laki punya peran dan perempuan juga punya peran.
Yang membuatku nggak nyaman adalah ketika sebuah budaya hanya diwariskan untuk menguntungkan satu pihak saja.
Seperti, ingin dihormati sebagai kepala keluarga, tapi nggak ingin memikul tanggung jawabnya.
Ingin dilayani, tapi lupa bahwa pasangan juga manusia yang bisa lelah.
Ingin perempuan menjadi “istri yang baik”, tapi nggak pernah bertanya apakah dirinya sendiri sudah menjadi pasangan yang baik.
Dan aku paling nggak suka sama lelaki yang modelannya terima bersih.
Semuanya sudah tersedia.
Makanan ada.
Rumah rapi.
Pakaian bersih.
Urusan selesai.
Lalu tinggal bilang,
“Mana makananku?”
Sir, your hands work too! ðŸ˜
Kadang aku membayangkan, kalau suatu hari nanti aku menikah, aku nggak ingin hidup seperti itu.
Bukan karena aku nggak mau melayani orang yang aku cintai. Aku mungkin akan memasak karena aku mau.
Menyiapkan sesuatu karena aku sayang. Mengurus rumah karena kami sedang berbagi kehidupan.
Tapi aku ingin melakukan semuanya sebagai bentuk kasih, bukan karena jenis kelaminku dianggap otomatis membuatku bertanggung jawab atas semuanya.
Karena bagiku, ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu karena cinta dan melakukan sesuatu karena merasa nggak punya pilihan.
Dan mungkin ini juga datang dari beberapa pengalaman kecil yang pernah kulihat atau kurasakan sendiri.
Nggak selalu dalam hubungan yang serius.
Kadang cuma dari percakapan.
Dari melihat bagaimana seseorang memperlakukan pasangannya.
Dari mendengar keluhan seorang perempuan yang terus diminta mengerti. Atau dari pengalaman ketika seseorang berharap kita memahami dirinya, tapi nggak merasa perlu melakukan hal yang sama.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin kelihatannya sepele.
Tapi justru dari hal-hal kecil, seseorang sering memperlihatkan cara berpikirnya.
Karena menurutku, karakter orang lain nggak selalu kelihatan ketika semuanya baik-baik saja. Kadang justru kelihatan ketika sesuatu nggak berjalan sesuai keinginannya.
Ketika dia salah.
Ketika dia kecewa.
Ketika dia marah.
Dan ketika dia tahu dia bisa saja melempar kesalahan kepada orang lain, tapi memilih bertanggung jawab.
Aku pernah berpikir, mungkin cinta memang bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Tapi tentang menemukan seseorang yang punya kesadaran.
Kesadaran bahwa hubungan bukan tempat untuk mendapatkan pelayanan gratis. Bukan tempat untuk melempar seluruh beban kepada orang lain. Dan bukan tempat untuk merasa paling berhak hanya karena lahir sebagai laki-laki atau perempuan.
Aku belum tahu seperti apa rasanya menjalani rumah tangga.
Mungkin nanti ketika aku mengalaminya, aku akan tertawa membaca tulisan ini.
Mungkin aku akan bilang,
“Sherina, ternyata nggak segampang itu, ya.”
Dan mungkin memang nggak gampang.
Hidup memang jarang sesederhana tulisan.
Tapi untuk sekarang, dari apa yang kulihat, kupikirkan, dan sedikit yang pernah kurasakan, aku tahu satu hal :
Aku ingin hubungan yang terasa seperti dua orang dewasa yang memilih satu sama lain.
Bukan satu orang menjadi pelayan dan satunya menjadi tuan. Bukan satu orang selalu mengalah dan satunya selalu dimengerti. Bukan juga satu orang sibuk memastikan semuanya baik-baik saja, sementara yang lain bahkan nggak sadar bahwa pasangannya sedang kelelahan.
Aku ingin seseorang yang ketika melihatku lelah nggak berpikir,
“Bukankah itu memang tugasmu?”
Tapi berpikir,
“Apa yang bisa kubantu?”
Dan aku juga ingin menjadi perempuan yang bisa melakukan hal yang sama kepadanya. Karena mungkin begitulah seharusnya hubungan bekerja.
Bukan tentang siapa yang paling banyak memberi. Tapi tentang dua orang yang sama-sama nggak tega membiarkan yang lain memikul semuanya sendirian.
Pada akhirnya, aku nggak sedang mencari lelaki yang bisa melakukan semuanya. Aku juga nggak ingin menjadi perempuan yang harus melakukan semuanya.
Aku cuma ingin bertemu seseorang yang mengerti bahwa cinta punya bentuk lain selain kata-kata.
Kadang bentuknya adalah mengambil alih pekerjaan rumah ketika pasangan sedang lelah. Maybe ia berbentuk meminta maaf tanpa menunggu diminta. Atau ia berbentuk menepati janji.
Nggak menambah beban seseorang yang sudah cukup berat menjalani harinya.
Mungkin kedengarannya sederhana.
Tapi semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa hal-hal sederhana justru sering menjadi yang paling sulit ditemukan.
Dan mungkin, sebelum mencari seseorang yang bisa mencintaiku dengan baik, aku juga harus belajar menjadi seseorang yang bisa mencintai dengan cara yang sama.
Karena aku nggak mau hanya menuntut seseorang menjadi pasangan yang baik, sementara aku sendiri nggak tahu bagaimana caranya menjadi pasangan yang baik.
Sama-sama belajar.
Sama-sama salah.
Sama-sama memperbaiki.
Sama-sama tumbuh.
Karena pada akhirnya, aku nggak mencari lelaki yang sempurna. Aku cuma ingin lelaki yang ketika suatu hari nanti kami sama-sama lelah, nggak sibuk menghitung siapa yang lebih banyak berkorban.
Tapi memilih duduk di sebelahku dan berkata,
“Udah. Kita kerjain sama-sama.”
Mungkin itu saja.
Nggak terlalu romantis.
Nggak terlalu besar.
Tapi bagiku, cukup.
Sebab hubungan yang baik mungkin bukan tentang menemukan seseorang yang membuat hidup selalu mudah.
Melainkan menemukan seseorang yang membuat kita nggak merasa harus menghadapi hidup sendirian.
Dan kalau suatu hari nanti aku benar-benar menikah, semoga tulisan ini nggak menjadi standar yang kaku tentang bagaimana sebuah rumah tangga harus berjalan.
Semoga ia cuma menjadi pengingat kecil tentang hubungan seperti apa yang pernah ingin kubangun.
Bukan tentang siapa yang harus melayani siapa.
Tapi tentang dua orang yang sama-sama memilih untuk hadir.
Karena kalau akhirnya harus menjalani hidup bersama seseorang, aku rasa...
lebih baik punya pasangan daripada punya atasan di rumah sendiri.
