Sherina Aldaina

Self · Love · Stories · Journal

Jangan Merasa Penting di Hidup Orang Lain


“Jangan merasa penting di hidup manusia.”

Begitu kata temanku. 

Awalnya aku cuma mengangguk. Tapi entah kenapa, setelah percakapan itu selesai, kalimatnya malah ikut pulang bersamaku.


Agak nyelekit memang.


Karena selama ini kita justru sering diajarkan untuk merasa berarti bagi seseorang. Bahwa kalau merasa sayang, berarti kita penting. Kalau orang itu selalu mencari kita, berarti kita punya tempat khusus di hidupnya.


Tapi mungkin ada satu hal yang sering kita lupa, setiap orang ada masanya.


Ada orang yang dulu hampir setiap hari kita ajak bicara, sekarang bahkan tidak tahu kabarnya.

Orang yang pernah kita pikir akan selalu tinggal, ternyata hanya datang untuk menemani satu bagian perjalanan.

Juga ada yang pernah kita anggap rumah, tapi akhirnya hanya menjadi tempat yang pernah kita singgahi.


Dan anehnya, kita sering marah ketika itu terjadi.


Kita bertanya, “kok dia berubah?”


Padahal manusia memang berubah.


Perasaan berubah. 

Prioritas berubah. 

Keadaan berubah.


Bahkan diri kita sendiri berubah tanpa sadar.


Lalu temanku juga bilang sesuatu yang lebih sinis, 


“Manusia itu makhluk hipokrit.”


Aku tertawa waktu mendengarnya.


Tapi lagi-lagi, ada benarnya.


Kita bisa bilang seseorang akan selalu ada, padahal kita sendiri tidak tahu apakah besok masih punya perasaan yang sama.

Kita bisa bilang “selamanya”, padahal hidup saja tidak pernah menjanjikan sampai kapan kita akan berada di tempat yang sama.


Bukan berarti semua orang jahat.


Mungkin manusia hanya terlalu sering berbicara berdasarkan perasaan hari ini, kemudian lupa bahwa perasaan bisa berubah.

Dan mungkin karena itu juga, kita seharusnya tidak terlalu merasa penting di hidup orang lain.


Bukan karena kita tidak berharga.


Tapi karena kita tidak pernah benar-benar tahu sampai kapan kita menjadi penting.


Yang lebih menarik lagi, aku jadi berpikir tentang kehilangan.


Kenapa kita begitu takut kehilangan seseorang?

Apakah benar karena kita takut kehilangan dia?

Atau jangan-jangan kita sebenarnya takut kehilangan versi diri kita ketika bersama dia?


Karena terkadang yang kita rindukan bukan orangnya.


Kita merindukan diri kita yang dulu. Diri kita yang lebih banyak tertawa.

Yang punya seseorang untuk diceritakan banyak hal.


Merasa dipahami.


Merasa ada yang menunggu.


Merasa hidup sedikit lebih ringan karena ada seseorang di sampingnya.

Dan ketika orang itu pergi, kita merasa seperti kehilangan semuanya.

Padahal maybe yang paling kita takutkan adalah kembali menjadi diri kita yang sebelum dia datang.


Sendirian lagi.


Mencari tempat bercerita lagi.


Belajar merasa cukup tanpa validasi dari orang lain.


Itu yang membuat kehilangan terasa begitu menakutkan.


Kita bukan cuma kehilangan manusia.


Kita kehilangan rutinitas, kebiasaan, harapan, dan versi diri yang selama ini kita kenal.

Makanya, mungkin mencintai seseorang juga perlu punya batas.

Bukan batas untuk mencintainya.

Tapi batas supaya kita tidak ikut menghilang di dalamnya.


Karena lucunya, kita sering takut kehilangan orang lain, tapi tidak terlalu takut kehilangan diri sendiri ketika sedang bersama mereka.


Kita rela mengubah banyak hal. Menahan banyak hal hingga rela memaklumi banyak hal.

Sampai suatu hari kita bercermin dan bertanya, “kok aku sudah bukan aku yang dulu?”

Dan mungkin itu kehilangan yang jauh lebih menyedihkan.


Seseorang pergi, kita tahu apa yang hilang.


Tapi kalau diri sendiri yang perlahan hilang, kadang kita tidak sadar kapan kehilangannya dimulai.


Jadi mungkin benar kata temanku.


Jangan merasa terlalu penting di hidup manusia.


Bukan supaya kita menjadi cuek.


Bukan berarti kita berhenti menghargai orang.


Justru karena kita tahu semuanya bisa berubah, kita jadi belajar menikmati kehadiran tanpa terlalu menggenggam.


Kalau ia memilih tinggal, hargai.


Kalau ia memilih pergi, lepaskan.


Kalau ia berubah, terima saja.


Dan kalau suatu hari seseorang yang pernah begitu penting ternyata hanya menjadi bagian dari masa lalu, bukan berarti hubungan itu gagal.


Mungkin memang masanya sudah selesai.


Karena tidak semua orang yang datang ditakdirkan untuk menetap.


Ada yang datang untuk menemani. Ada yang datang mengajarkan. Ada yang melukai. Ada juga yang datang untuk membuat kita mengenal diri sendiri.


Lalu mereka pergi.


Dan kita tetap berjalan.


Pada akhirnya, mungkin bukan tentang siapa yang paling penting di hidup siapa.


Tapi tentang bagaimana kita bisa tetap menjadi diri sendiri, bahkan ketika orang-orang yang pernah membuat hidup terasa berbeda sudah tidak lagi berada di sana.


Sebab manusia memang datang dan pergi.


Dan kalau setiap orang memang punya masanya, semoga ketika masa mereka selesai, kita tidak ikut selesai bersama mereka.